~Memories~ {Trouble Of Love Chapter 2}


Author : Song Sae Yoon
Genre : Romance
Rating : PG-15
Cast :
Song Sae Yun a.k.a Soyu
Lee Sungmin a.k.a Sungmin
Lee Sung Jin a.k.a Sungjin
Masahiro Inoue a.k.a Inoue
Lee Sun Kyu a.k.a Sunny

~THE STORY~
“Hya, kau masih sibuk.” Ucap Sungmin seraya memainkan tanganku yang ia genggam.
“Sungmin, lepas aku mau nulis.” Ucapku seraya melepaskan tangannya dari tanganku.
“Apa masih belum selesai?” Tanya Sungmin menatapku dengan kesal.
“Hemmmh, kau tadi malam main game sama adikmu yah.” Ucapku yang seratus persen benar.
“Hehehe, Cuma ampe jam 2 kok tadi malam.” Ucapnya cengar – cengir gaje.
“Aish, kau tidak lihat lingkaran hitam di matamu itu.” Ucapku sambil menatapnya tajam.
“Hehehe, tapikan aku ada kemajuan.” Ucapnya bangga.
“Apanya kemajuan?” Tanyaku sambil mencubit pipi chabbynya.
“Aw!, sakit tahu.” Pekiknya seraya melepasakan cubitanku.
“Ehemm.” Deham seorang yeoja cantik duduk di depan kami berdua.
“Kaukan.” Ucap Sungmin sambil menunjuk yeoja itu tampak aneh.
“Annyeong Sungmin, lama tidak berjumpa yah.” Sapa yeoja itu sambil tersenyum manis.
“Sungmin, kau kenal dia.” Bisikku pelan.
“Dia itu Sunny dia adalah teman lamaku saat aku sekolah di amerika.” Jelas Sungmin pelan.
“Oh.” Gumamku manggut – manggut.
“Dan kau pasti Soyukan.” Ucap yeoja itu sambil menatapku dengan tatapan menilai.
“Iya.” Ucapku sedikit canggung karena tatapannya itu, tak lama aku berbincang ringan dengan yeoja itu tiba – tiba waktu jam istirahatpun habis.
“Sudah selesai?” Tanya Sungmin sambil menatapku cemas.
“Iya, tenang aja.” Jawabku, Sungmin tersenyum dan mengacak – acak rambutku pelan.
“Hemm, Sungmin kita kekelas yuk.” Ajak yeoja itu sambil menatapku aneh.
“Hm, Soyu nanti tunggu aku di halaman tengah yah, jangan pulang duluan seperti kemarin.” Pesannya, aku mengangguk, dan ia pun pergi ke arah kelasanya, aku berjalan menuju kelasku dan mengikuti pelajaran selanjutnya.
Pulang Sekolah Di Halaman Tengah
“Sungmin lama sekali.” Gumamku seraya menghela nafas panjang.
“Soyu, mian tadi ada pelajaran tambahana gak apa – apakan.” Ucap Sungmin yang kelihatannya ngos – ngosan seperti orang yang sedang di kejar setan.
“Ngak, apa – apa duduk dulu, tarik nafasmu dulu.” Ucapku lembut.
“Akh, capek sekali.” Ucapnya seraya merebahkan tubuhnya di atas kursi dan menyadarkan tubuhnya ke sandaran kursi taman.
“Huh, aku jadi ingat saat kita kecil.” Ucapku membuka lembaran lama.
“Jincha, ku rasa aku juga, apa kau ingat saat waktu pertama kali aku menunjukkan seekor laba – laba kepadamu.” Ucapnya yang seketika membuatku merinding.
“Iya, hal itu tak bisa ku lupakan seumur hidupku.” Jelasku sambil menatapnya tajam.
“Yah, hahaha kau tahu itu adalah masa yang paling aku suka, tepatnya saat kau berlari terbirit – birit menuju rumahmu.” Ucapnya sambil menyidirku dengan matanya itu.
“Cih, apa kau juga tidak ingat saat kau di suruh memakai pakaian anak perempuan saat kecil, aigoo neomu yeppeo.” Sindirku.
“Oh, jadi kita sekarang lagi main buka – bukaan aib yah, ok.” Ucapnya seraya menatapku tajam.
“Siapa yang lagi main.” Ucapku mengacuhkannya.
“Kau.” Pekiknya seraya mengelitikiku, aku tertawa terbahak – bahak di buatnya.
“Hahaha, Sungmin aku nyerah…aku nyerah.” Ucapku seraya berusaha menghentikan tangannya yang sedang mengelitikiku.
“Ehem, mesra amat.” Deham seorang namja memecahkan suasana kami berdua.
“Akh, kau Inoue.” Ucap Sungmin.
“Siapa lagi ini?” Bisikku bingung.
“Oh, ini teman sekelasku Inoue.” Ucap Sungmin.
“Hi.” Sapa namja itu dengan senyum manis.
“Oh, hi.” Balasku.
“Ya, sudah aku tidak mau ganggu nich ku pulang duluan yach, bye.” Pamit namja itu seraya melambai pelan ke arah kami berdua.
“Hemmh, kelihatannya sekolah mulai sepi, pulang yuk.” Ajaknya seraya menatapku.
“Nae.” Ucapku seraya beranjak dari tempat duduk.
Di Depan Rumah
“Rumahmu sepi sekali, kau yakin appa dan ammamu ada di rumah?” Tanya Sungmin cemas.
“Entahlah.” Ucapku juag mulai cemas.
“Ya sudah coba periksa saja dulu.” Saran Sungmin, aku mengangguk dan mengetuk pintu dengan cukup kuat, 15 menit kami memeriksa keaadan rumah dan ternyata benar kedua orang tuaku benar – benar tak ada di rumah.
“Hemm, lebih baik kau ke rumahku saja.” Sarannya.
“Ya, sudah.” ucapku seraya kembali menaiki motornya.
Di Rumah Sungmin.
“Akhirnya kalian datang juga.” Ucap ajumma seraya menghampiri kami.
“Waeyo?, amma?” Tanya Sungmin bingung.
“Ani, Soyu mulai hari ini sampai bulan depan kamu tinggal di sini yah.” Ucap ajumma yang seketika membuatku kaget.
“Maksud, ajumma?” Tanyaku bingung.
“Amma dan appamu sedang keluar kota, dan meminta ajumma untuk menjagamu, jadi ajumma minta saja kau tinggal di sini untuk beberapa saat ini.” Terang ajumma.
“Oh.” Gumamku manggut – manggut mengerti.
“Ya, sudah ayo masuk biar ajumma tunjukkan kamarmu.” Ucap ajumma ramah kepadaku, ia menuntunku ke kamarku selama aku tinggal di sana.
“Omo, kamarnya bagus sekali ajumma.” Ucapku kagum saat melihat kamar yang bernuansa pink dan putih.
“Hahaha, ini sebenarnya dekorasi oleh ajusshi.” Ucap ajumma sambil tersenyum simpul.
“Oh, Jeongmal.” Ucapku manggut – manggut.
“Ya sudah ajumma tinggal dulu yah.” Ucap ajumma, aku mangangguk pelan, tak lama ajumma pergi.
“Ehem, kau sudah mengambil kamarku.” Ucap seorang namja yang sangat aku kenal.
“Kau memang tidak berubah, semua yang ada di kamarmu selalu bernuansa pink, dasar pinkiboy.” Ujarku pelan.
“Yah, setidaknya kau kena karmanya kan.” Suara namja itu mendekat dari belakangku.
“Hah!, iya.” Ucapku lalu aku berbalik untuk memandang namja itu, ku tatap namja itu sedang tersenyum manis ke arahku.
“Sudah lebih baik kau keluar aku ingin mengganti baju.” Usirku.
“Mwo, bukannya lebih baik aku di sini, yah sekalian melihatmu ganti baju.” Ucapnya jahil.
“Gila kau.” Pekikku seraya mendorongnya keluar dan mengunci kamar rapat – rapat.
Malam Harinya
“Sungmin hyung!.” Teriak seorang namja dan…
BRAK!!!
Suara pintu kamarku terkuak.
“Sungmin…??????????????????????.” Ucap namja itu terpaku melihatku, karena sudah bersiap – siap untuk tidur aku memakai sebuah piama pendek.
“Kyyyyaaa!!!!.” Teriakku histeris, sehingga membuat sedikit keributan di rumah.
“Soyu ke~!?.” Ucap Sungmin terhenti tepat aku menyelimuti tubuhku, tak lama Sungmin menatapku ia langsung beralih ke arah namja yang ada di sampingnya.
“Sungjin.” Pekik Sungmin kesal di tariknya namja itu keluar sambil menutup pintu kamar.
Dari Arah Luar
~SUNGMIN POV~
“Sungjin, apa yang kau lakukan?” Tanyaku kesal.
“Akh, tidak ada tapi siapa yeoja itu?” Tanya Sungjin.
“Dia itu calon kakak iparmu.” Bisiku pelan.
“Sungmin, Sungjin ada apa ini?” Tanya appa terlihat khawatir.
“Akh, anyio appa Sungjin tadi ia salah masuk kamar, jadi Soyu kaget dan berteriak.” Jelasku.
“Oh, appa lupa mengatakannya padamu Sungjin, mulai sekarang sampai bulan depan Soyu akan tinggal bersama kita.” Jelas appa.
“Soyu???, maksud appa dan hyung Soyu, anak tetangga kita dulu.” Ucap Sungjin, aku mangangguk pasti.
“Ya sudah appa kamar dulu dan ingat jangan berani – berani masuk ke kamar wanita, jika berani kalian…”
“Kalian tak pantas di sebuat seorang lelaki, tenang appa Soyu akan aman.” Ucapku tegas.
“Hemm, bagus.” Ucap appaku seraya pergi.
“Kalau begitu hyung akan tidur dimana?” Tanya Sungjin.
“Yah, di kamarmu lah, kan kitakan saudara, oya udah ketemu belum game yang seru lagi.” Ucapku semangat.
“Sudahlah hyung, aku memintanya dari Kyuhyun hyung.” Ucap Sungjin.
“Oh, ok let’s go kita main.” Sorakku seraya masuk ke kamar Sungjin.
~SUNGMIN POV END~
Tiba – tiba suara – suara di luar kamar tak terdengar lagi, perlahan ku turunkan selimut dan mulai menggapai seklar lampu yang tak jauh dari ranjang, setelah lampu mati dengan cepat aku berbaring dan entah kenapa saat aku berbaring di ranjang ini, aku merasa aneh.
Keesokkan Harinya
“Soyu!.” Panggil seorang namja, aku menggeliat di bawah selimut.
“Aish, Soyu-ah ada laba – laba.” Teriak orang itu yang seketika membuatku gelagapan dan terbangun dari tidurku.
“Hahahaha, Soyu – Soyu.” Ucap namja itu yang sedang tertawa terbahak – bahak.
“Ih, Pagi – pagi udah jahil.” Ucapku kesal.
“Siapa suruh susah di bangunin.” Timpalnya sambil menahan tawa.
“Aish.” Desisku geram melihat tingkahnya.
“Ya sudah cepat mandi sana, aku akan menunggumu di bawah.” Ucapnya seraya keluar dan menutup pintu kamar, dengan malas aku turun dari ranjang dan menyeret langkahku ke kamar mandi. Setelah mandi dan bersiap – siap aku keluar dan menemui Sungmin di bawah.
“Soyu, ayo ikut sarapan.” Ucap ajumma dengan ramah.
“Nae.” Ucapku seraya duduk di samping Sungmin sedangkan di hadapanku adalah namja yang tadi malam masuk kekamar.
“Sungmin, dia.” Ucapku terhenti saat Sungmin dengan cepat berkata.
“Adikku, Sungjin kau ingat.” Ucapnya seraya melahap sarapan paginya.
“Huh!.” Kagetku yang seketika membuat Sungmin tersedak.
“Uhuk~!. Kau ini kenapa?” Tanya Sungmin seraya meminum minumannya.
“Dia Sungjin.” Jawabku dengan nada berbisik.
“Iya!.” Ucap Sungmin dengan wajah polos.
“Yang, nakal itu.” Ucapku.
“Mwo, aku tidak nakal.” Marah Sungjin yang ternyata mendengar ucapanku.
“Ya!, kau itu memang nakal.” Bela Sungmin enteng.
“Hyung!.” Pekik Sungjin.
“Sudah – sudah, ayo habiskan sarapan kalian.” Ucap ajumma yang melerai Sungmin dan Sungjin.
“Soyu, ini sarapanmu.” Ujar ajumma seraya menyodorkanku sepiring nasi goreng.
“Gomawo, ajumma.” Ucapku sopan.
“Mwo, amma kenapa sarapanku dan Sungjin saja yang beda.” Protes Sungmin saat melihat sarapanku, ajusshi dan ajumma.
“Aigoo, bukankah appa kalian sudah menaikkan uang jajan kalian.” Ucap ajumma.
“Tapi, ngak usah seperti inikan kami kan juga perlu makanan lebih amma.” Lanjut Sungjin.
“Aish, sudah jangan banyak protes kalian, habiskan sarapan kalian.” Ucap ajumma, setelah sarapan aku dan Sungmin bergegas pergi sekolah, padahal aku kurang nyaman untuk tidak membantu ajumma membersihkan sarapan kami tadi, tapi ajumma memaksa untuk berangkat bareng sema Sungmin.
“Akh, aku masih lapar.” Keluh Sungmin manyun.
“Hemmmh.” Gumamku seraya menatapnya biasa.
“Ya!, kenapa hanya hemm lalu menatapku seperti itu saja.” Kesalnya sambil menatapku kesal.
“Lalu kamu maunya aku melakukan apa?” Tanyaku polos.
“Ya, apa kek, kayak beliin aku makanan, yah sekali kali kau yang mentraktirku.” Ucapnya sambil tersenyum manis ke arahku.
“Enak ajja, kaukan punya uang jajan lebih untuk apa minta traktir denganku.” Tolakku.
“Yah, setidaknya sebagai calon tunangan.” Ucapnya lagi.
“Huh, dengar yah siapa juga yang menerima tuch acara gak jelas.” Ujarku santai.
“Jadi kau masih menolak perjodohan kita.” Ucapnya yang seketika menghentikan langkahnya.
“Iya.” Ucapku enteng.
“Hemmmh, kenapa?” Tanyanya dengan tampang kecewa.
“Karena kurasa ini terlalu cepat.” Jawabku singkat.
“Benarkah.” Ucapnya seraya mulai melangkahkan kaki mengikutiku dari belakang.
“Naeyo.” Ucapku pelan.
“Hemmmh, ya sudah ayo cepat nanti kita telat.” Ucapnya.
“Tapi kenapa kita tidak makek motor aja?” Tanyaku bingung.
“Enggak akh, kan lebih sehat jalan kaki.” Jawabnya seraya mempercepat langkahnya.
“Sungmin, tunggu.” Seruku dan berusaha mengejarnya yang cukup jauh dariku. Tanpa sadar ternyata sejak tadi kami di ikuti oleh seseorang.
Di Sekolah ~Jam Istirahat~
‘Hemm, tumben sekali Sungmin tidak kekelasku kali ini.’ Batinku, karena tidak terlalu memikirkannya aku hanya diam di kelas dan mulai kegiatan kebisaanku yaitu mendengarkan lagu dari ipodku.
“Ehem.” Deham seorang namja.
“Tumben sekali tidak kekantin bareng Sungmin.” Ucap Inoue.
“Oh ya entahlah, kali ini Sungmin tidak mengajakku.’ Ucapku seraya tersenyum ramah ke arahnya.
“Hemmh, kalau begitu kau mau ke kantin bersamaku.” Ajak Inoue, aku menimbang – nimbang sejenak.
“Ok, dech.” Ucapku sambil mengangguk, lalu kamipun berjalan berdua ke kantin, ternyata aku dan Inoue banyak sekali kesamaan dalam hal – hal film dan kegemaran, sehingga kami tak sulit menjadi akrab, saat sedang asik berbincang di kantin, tiba – tiba…
“Ehem.” Deham seorang namja dari arah belakangku, Inoue menatap santai ke arah namja itu, karena penasaran aku menoleh dan ku tatap Sungmin dan yeoja yang bernama Sunny sedang berdiri di belakangku.
“Oh, Sungmin.” Ucapku polos.
“………” Sungmin hanya diam dan menatapku tajam.
“Hemmm, Sungmin kau mau makan bersama kami.” Ajak Inoue.
“Tidak, tidak perlu.” Ucap Sungmin dingin yang seketika membuatku merasa aneh, lalu perlahan ia pergi dengan dingin.
“Apa aku mengganggu hubungan kalian?” Tanya Inoue yang seketika membuatku bingung.
“Hubungan apa maksudmu?” Tanyaku bingung.
“Mwo, apa kau tidak tahu? semua orang sudah tau kalian itu adalah tunangan.” Jelas Inoue dengan tatapan tidak percaya ke arahku.
“Huh! karena itu banyak orang yang menatapku sinis.” Ucapku dalam hati.
“Soyu, kau tak apa – apa?” Tanya Inoue cemas.
“Ah, iya lebih baik aku ke kelas.” Ucapku.
“Tapikan.” Ucapnya terhenti saat aku sudah mulai melangkah pergi dari kantin.
Pulang Sekolah
Aku menunggu Sungmin di depan pintu loker, saat sekolah mulai menyepi…
“Kau belum pulang?” Tanya seorang namja dengan nada dingin.
“Bukankah kita akan pulang bareng.” Jawabku singkat.
“Mian, tapi aku ada urusan lain jadi kau pulang saja duluan.” Ucapnya dingin seraya melangkah melewatiku.
“Oh, kalau begitu sampai jumapa di rumah yah.” Seruku sambil menepuk pundaknya lalu pergi.
“……..” Tak ada balasan darinya, aku berjalan dengan riangan menuju rumah Sungmin, tetapi di tengah perjalanan…
“Neo.” Pekik seseorang membuatku menoleh ke belakang dan ku tatap seorang yeoja.
“Sunny.” Gumamku pelan, yeoja itu mendekat ke arahku sambil melipat tangannya di dada, ia melayangkan tatapan menilai ke arahku.
“Kau siapanya Sungmin?” Tanya Sunny.
“Aku, aku temannya Sungmin.” Jawabku enteng.
“Aku kurang yakin, kau tinggal satu rumahkan dengan Sungmin.” Ucapnya.
“Naeyo Waeya?” Tanyaku bingung dengan dengan ucapnya yang tampaknya ingin mengintrogasiku.
“Dengar aku suka dengan Sungmin jadi jauhi dia.” Jawabnya dengan tatapan aneh.
“Huh, kau suka Sungmin, ya ampun.” Ucapku sambil menutup mulutku sampai kagetnya.
“Iya, dengar jauhi dia.” Ucap Sunny ketus seraya pergi dari hadapanku.
“Huwah, ternyata ada juga yeoja cantik yang suak dengan Sungmin.” Sindirku.
Di Rumah
“Soyu, kau kemana saja?” Tanya ajumma cemas.
“Tidak kemana – mana Cuma tadi aku beberapa kali tersesat karena aku belum tahu pasti jalan di sekitar sini.” Jelasku.
“Aigoo, apa Sungmin tidak bersamamu?” Tanya ajusshi sambil berkacak pinggang.
“Oh, tadi Sungmin bilang ia punya urusan jadi aku pulang duluan.” Terangku.
“Aish, anak itu.” Ucap ajusshi tampak geram.
“Ya sudah Soyu kau mandi saja dulu yah.” Ucap ajumma lembut.
“Akh, nde gamshamnida.” Ucapku seraya naik ke atas.
“Noona.” Panggil Sungjin dari arah kamarnya.
“Nae.” Sahutku.
“Noona, Sungmin hyung mana?” Tanya Sungjin.
“Oh, dia tadi ada urusan waeyo?” Tanyaku penasaran.
“Hemmh, noona bisa main game?” Tanya Sungjin semangat 45.
“Sedikit.” Jawabku ragu.
“Kita main game yuk.” Ajak Sungjin.
“Boleh.” Ucapku sambil manggut – manggut, lalu kamipun main game, biarpun aku selalu kalah dalam setiap steg game yang kami mainkan, hampir 2 jam lebih kami main tiba – tiba pintu kamar terbuka dan akupun menoleh ke arah pintu.
“Sungjin, Soyu.” Ucap Sungmin terlihat aneh.
“Oh, hyung lihat Soyu noona dia kalah telak melawanku.” Ucap Sungjin dengan bangga.
“Mwo, ya aku memang sengaja mengalah denganmu.” Elakku.
“………..” Sungmin hanya diam dan menatapku dingin, hampir 3 hari Sungmin bersikap dingin denganku karena mareasa di acuhkan akupun bertanya kepadanya kenapa ia selalu bersifat dingin denganku pada saat berada di halaman belakang rumahnya yang cukup luas.
“Wae?” Tanyanya santai.
“Kau sedang marah padaku.” Ucapku, ia menoleh dan menatapku.
“Emang kenapa?” Tanyanya lagi.
“Karena apa?” Tanyaku manyun.
“Apa kau tidak menyadarinya?” Tanyanya tampak kesal.
“Mwo, emang aku melakukan kesalahan yah.” Ucapku seraya menegakkan tubuhku.
“Iya, apa kau lupa huh! sudah ku bilang kalau sedang istirahat itu jangan pergi kamana – mana sebelum aku ke kelasmu, terus jangan menerima ajakkan orang yang tidak kau kenal.” Ucapnya panjang lebar.
“Mwo, karena hal itu.” Ucapku santai.
“Iya, karena hal itu.” Ucapnya ketus.
“Tumben sekali kau marah dengan hal sepele seperti itu.” Ucapku polos.
“Huh!, emang susah membicarakan hal ini kepadamu.” Ucapnya frustasi, aku hanya diam dan kebingungan sendiri.
“Dengar Soyu, kau tahu kenapa aku tidak menolak perjodohan kita ini.” Ucap Sungmin tegas.
“Kenapa?” Tanyaku antusias.
“Karena ak…aku…” Ucapnya yang seketika berubah menjadi orang yang gugup.
“Wae?” Desakku.
“Karena aku mencintaimu.” Ucapnya terus terang, seketika nafasku tertahan dan ku tatap ia dengan tatapan tidak percaya, sesaat suasana menghening.
“Mwo!.” Pekikku kaget.
“Kau…kau …kau mencintaiku, huh kau jangan bercanda.” Ucapku sambil tertawa paksa.
“Aku tidak bercanda.” Ia menekan setiap kata yang ia ucapkan.
“Huh,” Gumamku kaget, dadaku merasa sesak. Saat itu suasana antara kami terkadang menjadi canggung dengan sendirinya, dan saat itu juga aku mulai merasakan artinya permasalahan dalam cinta.

~TBC~


One thought on “~Memories~ {Trouble Of Love Chapter 2}

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s