FF ~Memorise~ {Stay With U Chapter 3}


~THE STORY~
Entah ini awal atau terakhir aku bisa merasakan perasaan ini, sejak ia mengatakan isi hatinya entah kenapa aku merasa ada sesuatu di benakku, Sungmin selalu memberikan aku sebuah perhatian yang lebih dari wanita lainnya, termasuk yeoja yang menyukainya yaitu Sunny.
“Soyu~…Soyu.” Panggil Sungmin membuyarkan lamunanku.
“Akh, apa tadi?” Tanyaku gelagapan.
“Kenapa sejak kemarinku perhatikan kau selalu melamun?” Tanya Sungmin terlihat curiga.
“Tidak apa – apa.” Jawabku sambil tersenyum palsu.
“Jincha, aku kurang yakin.” Ucapnya sambil memperhatikanku dengan teliti.
“Ah, sudahlah lupakan saja.” Ucapku santai.
“Hemm.” Gumamnya seraya kembali membaca buku pelajarannya.
“Ehem, kita ketemu lagi di perpus.” Deham seorang yeoja yang sangat aku kenal.
“Akh, Sunny.” Ucapku sambil tersenyum.
“Hemm, ku rasa kita selalu bertemu di perpus, tumben sekali yeoja seperti kau masuk ke perpus.” Sindir Sungmin malas seraya menyadarkan tubuhnya ke sandaran kursi.
“Ssst.” Desisku pelan sambil menginjak kakinya.
“Aw, sakit.” Bisiknya saat ku injak kakinya.
“Sungmin, orang – orang kan bisa berubah kapan saja.” Ucap Sunny dengan senyum manis ke arah Sungmin, entah kenapa aku merasa aneh dengan senyumannya kepada Sungmin.
“Huh!.” Dengus Sungmin seraya kembali membaca buku pelajaran, karena hari ini adalah hari sabtu jadi para murid bebas melakukan aktivitasnya seperti mengikuti exskul – exskul atau bimbel, tapi sekarang aku dan Sungmin lebih memilih untuk di perpus, karena ada beberapa buku yang menurut kami menarik untuk kami baca.
“Sungmin apa kau tidak bosan dengan buku itu?” Tanyaku pelan.
“Tidak, apa kau bosan?” Tanyanya balik, aku mangangguk.
“Hemm, hari ini adalah acara spesial dari club teater kau mau melihatnya.” Ajak Sungmin.
“Benarkah, apa itu menarik?” Tanyaku pelan.
“Aku juga tidak tahu, tapi beberapa hari ini anak – anak di kelasku sering membahasnya.” Jelas Sungmin.
“Hemm, boleh juga ayo.” Ajakku, Sungmin tersenyum ke arahku.
“Maap boleh aku ikut.” Ucap Sunny yang entah kenapa aku merasa ia malah merusak suasana hatiku saat ini.
“Soyu.” Bisik Sungmin pelan.
“Boleh.” Ucapku tanpa sadar, Sungmin menatapku dengan tatapan aneh. Sunny tersenyum puas, lalu kamipun bergegas keluar dari perpus, Sungmin selalu berjalan di dekatku, sedangkan Sunny selalu berjalan di dekat Sungmin, bahkan saat di ruang teater Sunny duduk tepat di samping Sungmin.
“Soyu, ini.” Ucap Sungmin seraya menyodorkanku sebuah naskah.
“Apa ini?” Tanyaku bingung.
“Ini naskah cerita yang bakal mereka mainkan hari ini.” Jawabnya sambil tersenyum ke arahku, perlahan ku tatap judul naskah itu dan ku baca.
‘HACHIKO’
“Mwo, bukannya ini cerita dari jepang.” Bisikku.
“Nae, apa kau sudah tahu cerita ini?” Tanyanya.
“Naeyo, cerita ini menceritakan tentang kesetiaan seekor anjing dengan majikannya, cerita ini sungguh menyedihkan.” Jawabku sambil tersenyum manis.
“Hemm, kelihatannya menarik.” Ucap Sungmin seraya meraih tanganku dan menggenggamnya, entah kenapa saat ia memengang tanganku aku merasa jantungku berdetak tidak karuan sampai teater itu selesaipun jantungku masih dedekan.
“Akh, Soyu kau benar ceritanya memang sungguh menyedihkan.” Ucapnya terlihat tanpa beban saat ia mulai merangkulku, ku rasakan tatapan Sunny mulai menusuk batinku.
“Ya tuhan!.” Batinku saat melihat Sungmin yang entah kapan begitu dekat denganku.
“Hemm, sudah jam 1 siang, kau mau pulang?” Tanya Sungmin seraya menatapku sedikit aneh.
“Nae, tapi kita pergi ke coffee life dulu yah, soalnya ada sedikit urusan di sana.” Ucapku ia tersenyum dan mengangguk pelan, lalu kamipun berjalan ke arah kelas.
Di Parkiran Sekolah
“Sungmin.” Seru Sunny seraya menghampiri Sungmin, Sungmin hanya menoleh sesaat lalu mulai menstartar motornya.
“Kalian ingin pergi ke coffee life yah?” Tanya Sunny sambil menatapku dan Sungmin bergantian.
“Hemm, nae.” Jawabku sambil tersenyum hambar.
“Oh, boleh aku ikut.” Ucap Sunny sambil menatapku dan Sungmin memelas.
“Tidak.” Ucap Sungmin dingin.
“Mwo! Soyu-ah.” Ucap Sunny ke arahku, lalu berbisik.
“Jangan coba – coba ingin menang sendiri kau.” Bisiknya pelan, aku menatapnya kesal.
“Kau mengancamku.” Bisikku.
“Hem, menurutmu.” Ucapnya sambil tersenyum licik.
“Soyu, ayo cepat naik.” Titah Sungmin sambil menyodorkanku helm.
“Nae.” Ucapku seraya melepaskan pegangan tangan Sunny, lalu naik ke atas motor.
“Kami duluan yah.” Godaku ke arah Sunny sebelum kami pergi.
“IH, menyebalkan.” Gumam Sunny dengan emosi.
DI Cafe Coffee Life
“Kau ada urusan apa di sini?” Tanya Sungmin tampak curiga.
“Rahasia.” Jawabku membuatnya penasaran.
“Mau ku temani.” Tawar Sungmin dengan nada suara yang aneh.
“Hah, kau ini seperti anak – anak saja di temanin aku bisa sendiri gomawo.” Tolakku dengan lembut dan bergegas masuk kedalam Cafe sederhana itu.
“Omo, Soyu.” Panggil Ajumma Min tampak bingung dengan kedatanganku.
“Annyeonhaseyo, ajumma.” Sapaku sopan, Ajumma min tersenyum ke arahku, lalu dengan pelan ia menghampiriku.
“Siapa itu?” Tanya Ajumma Min sambil menatap ke arah luar cafe yang berjendela kaca.
“Apa amma tidak memberitahu pada ajumma siapa itu?” Tanyaku bingung.
“Hmm, ammamu tak bilang apa – apa dengan ajumma, ya! Dia pacarmu yah.” Goda Ajumma Min tampak memeperhatikan Sungmin dengan tatapan menilai.
“Ajumma~a, hentikan itu, aku datang kesini mau membeli Cappucino ke sukaanku.” Ucapku manyun saat lagi – lagi ajumma menggodaku.
“Araseo, sebentar ajumma buatkan untukmu.” Ucap Ajumma seraya berbalik dan menuju ke arah belakang.
“Hah.” Aku menghela nafas dan menatap Sungmin yang sedang duduk di atas motor sambil melihat jam tangannya, “Apa aku tak terlalu kejam meninggalkannya di luar dengan cuaca sedingin ini.” Batinku tetapi dengan cepat ku tepis pikiran itu, “Hmm, biar kan sajalah sekali – sekalikan aku yang menyiksanya.” Gumamku sambil terkekeh evil.
“Ini.” Ucap Ajumma Min mengagetkanku.
“Omo.” Pekikku kaget.
“Aigoo, kau ini melihat namja itu seperti negliat apa jja.” Ucap Ajumma seraya menyodorkan 2 gelas cup Cappucino.
“Ajumma, kok ada dua?” Tanyaku bingung.
“Yang satunya buat namja itu, gratis.” Jawab Ajumma seraya menunjuk Sungmin yang ada di luar.
“Omo, tapi punyaku gratis jugakan.” Ucapku dengan tatapan puppy eyes.
“Siapa bilang, cepat bayar 20.000 won.” Ucap Ajumma dengan nada suara yang tegas.
“Mwo, biasanya juga Cuma 2.000 won.” Protesku.
“Ya! Kau sangka kau selama ini membayar semua pembelianmu.” Marah Ajumma sambil berkacak pinggang.
“Tapikan aku keponakanmu, ajumma.” Rayuku manja.
“Aish, araseo tapi nanti ajumma bakal nagih ama ammamu.” Ucap Ajumma.
“Nae, Ajumma saranghae.” Ucapku searaya memeluknya lalu bergegas pergi.
“Akh, dingin kau lama sekali.” Protes Sungmin dengan tatapan marah.
“Hehehe, mian ini.” Ucapku seraya menyodorkan satu gelas cup Cappucino panas kepada Sungmin.
“Hmm.” Gumam Sungmin mengigil seraya menyambar segelas cup Capuccino itu dan meminumnya, “Akh, hangat.” Gumam Sungmin.
“Ya, sudah ayo pulang.” Ajakku.
“Nae.” Ucap Sungmin seraya memperbaiki cara duduknya.
“Sini biarku pegang gelasnya.” Ucapku, Sungmin menoleh ke arahku dan menatapa dengan tatapan yang aneh.
“Wae?” Tanyaku bingung.
“Tumben.” Jawab Sungmin.
“Mwo, jadi kau tak mau ku bantu.” Ucapku Sungmin terdiam dan langsung menyodorkan gelas cup Cappucinonya, aku mengambilnya dan bergegas naik ke motor.
“Ok, kita pergi.” Ucap Sungmin, aku hanya menyahut dengan gumaman kecil, lalu dengan cepatnya Sungmin melajukan motornya ke jalanan raya.
DI RUMAH
“Kami pulang.” Seru Sungmin seraya melepas sepatunya.
“Hmm, kenapa sepi?” Tanyaku bingung.
“Mungkin amma sedang ke mini market.” Jawab Sungmin menebak – nebak.
“Hmm.” Gumamku seraya melepas sepatuku dan memasukkannya kedalam lemari sepatu.
“Sungjin.” Panggil Sungmin nyaring, “Hmm,kelihatanya Sungjin belum pulang.” Gumam Sungmin.
“Tapi ini sudah jam pulang.” Ucapku, Sungmin menoleh ke arahku dan mengakat kedua bahunya tidak tahu.
Bersamaan kami beranjak ke lantai atas.
“Mwo, rapi sekali.” Gumam Sungmin saat meluhat kamarnya dan Sungjin untuk semantara itu, tak lama Sungmin masuk kedalam kamar, tiba – tiba terdengar suara telphone rumah, Sungmin bergegas turun ke bawah dan mengakat telphone yang sudah berdering dengan nyaringnya.
“Yeobseo.” Sapa Sungmin pelan.
“Amma.” Pekik Sungmin kaget, aku bergegas turun dan menghampiri Sungmin.
“Mwo, itu ajumma?” Bisikku pelan, Sungmin menatapku dan mengangguk.
“Mwo, jadi amma, appa dan Sungjin sekarang ada di rumah Halmoni.” Pekik Sungmin seraya memegang kepalanya tampak kesal.
“Jadi, amma sengaja meninggalkan aku dan Soyu di rumah berduaan saja.” Marah Sungmin. Aku menatap Sungmin kaget dan tak percaya.
“AH, araseo.” Ucap Sungmin lemah.
“Eotteokhae?” Tanyaku penasaran.
“Amma, appa, dan Sungjin sedang ada di rumah Halmoniku.” Ucap Sungmin.
“Jadi.” Ucapku tambah penasaran.
“Jadi, kita hanya berduaan di rumah ini.” Ucap Sungmin seraya menatap ke arahku, aku membalas tatapannya beberapa saat pandangan kami saling bertemu.
DEG!
“Hmm, aku mau ke kamar.” Ucap Sungmin tampak canggung saat tiba – tiba kami saling menyadari sedang saling menatap.
“Nae, aku mau minum.” Ucapku seraya berbalik, tetapi tiba – tiba Sungmin memanggilku, aku menoleh ke arahnya.
“Ah, anu… tadi, hm mian kita jadi secanggung ini.” Ucap Sungmin gelagapan, aku menatapnya bingung saat ia bergegas pergi ke lantai atas, aku mencerna dengan pelan kalimatnya itu.
“Hmm, ada apa dengannya.” Gumamku bingung dengan sikapnya.
Waktu terus berjalan dan malam haripun mulai tiba, aku dan Sungmin makan malam dengan suasana yang canggung dan hening, membuat aku sedikit kurang nyaman.
“Soyu-ah, hm besokkan hari minggu, bagaimana kita jalan – jalan.” Ajak Sungmin dengan suara lemah.
“Jalan – jalan.” Gumamku menimbang – nimbang ajakannya.
“Kalau kau…”. “Aku mau.” Ucapku bersamaan dengan Kalimat Sungmin yang terhenti saat ku potong.
“Oh.” Gumam Sungmin tampak bingung ingin bicara apa.
“Kalau boleh tahu kita mau jalan kemana?” Tanyaku pelan.
“Hmm, seterah kau saja mau kemana.” Jawab Sungmin sekenanya, aku menatap Sungmin dan menimbang – nimbang ingin pergi kemana.
“Kita ke taman bermain bagaimana.” Saranku, Sungmin berpikir sesaat dan menganggukan kepalanya sambil menyuap makanannya kedalam mulut.
“Ok, kita ketaman bermain besok.” Ucapku semangat.
“Tapi, apa tidak kekanak – kanakan.” Ucap Sungmin membuat semangatku luntur.
“Ya! Siapa bilang itu kekanak – kanakan.” Pekikku tak setuju.
“Ya! Itukan Cuma argumenku sendiri kenapa jadi sewot.” Ucap Sungmin menatapku dengan bingung.
“Bukan begitu, tapi bukankah lebih kekanak – kanakan kalau main PS.” Sindirku, Sungmin mengakat kepalanya dan menatapku dengan tatapan marah.
“Masih marah dengan hal itu.” Ucap Sungmin manyun.
“Tapi, aku ingin tahu sejak kapan kau suka main game seperti itu, bukankah kau paling tidak suka.” Ucapku, Sungmin menatapku dan tersenyum.
“Aigoo, ternyata kau memperhatikanku.” Ucap Sungmin yang seketika membuatku salting.
“Mwo, siapa yang memperhatikan aku Cuma baru liat kau suka main game seperti itu.” Elakku dengan nada suara yang gugup.
“Hmm, aku tahu main game sejak kenal dengan seorang teman namanya Kyuhyun, dia seorang gamer.” Jelas Sungmin, aku manggut – manggut.
“Kau punya teman namja.” Ucapku, lagi – lagi Sungmin menatapku marah.
“Kau sangka karena dulu aku cepat akrab dengan yeoja, lalu kau sangka aku tak punya teman namja yah.” Ucap Sungmin tersinggung.
“Aniyo, tapi aku senang kau punya teman yang bisa membuatmu lebih terbuka.” Ucapku serius, dan kali ini lagi – lagi Sungmin menatap dan tersenyum ke arahku.
“Kau benar – benar memperhatikanku.” Ucap Sungmin dengan senyum bangga, aku gelagapan mendengar ucapannya itu dan dengan cepat ku lahap makan malamku tanpa mengindahkan tatapannya yang terus menatapku dengan aneh.
Setelah selesai makan aku mencuci piriang kami tadi dan setelah itu bersantai di ruang tengah.
“Argh, kenapa acara tv malam ni gak ada yang seru.” Gumam Sungmin furtasi.
“Ya! Hentikan itu.” Ucapku kesal.
“Ck.” Sungmin berdecak lalu tanpa sengaja Sungmin terhenti di suatu acara dewasa.
GLEK!
Dengan cepat Sungmin mematikan Tv dan menatapku yang sedang mematung, tiba – tiba rasa canggung kembali terasa di sekitar kami.
“Hm, akh aku mau ke kamar.” Ucap Sungmin seraya bergegas ke lantai atas, aku hanya diam dan saat mendenagar sauar pintu kamar tertutup, aku ikut naik ke lantai atas dan masuk kedalam kamarku.
“Aigoo, apa – apaan ini, kenapa aku tak pernah merasakan hal ini waktu aku menginap bahkan berpegangan tangan dengannya waktu kecil dulu.” Batinku seraya mengutuk diriku sendiri saat melihat tingkah Sungmin yang gelagapan saat di ruang tengah tadi, lalu dengan lesu aku merebahkan tubuhku di atas ranjang dan akupun mencoba untuk tidur tetapi pikiranku saat menyadari kalau aku sekarang sedang tinggal dengan seorang namja dalam satu rumah.
“Omo.” Geramku kesal seraya berguling kesana kemari, karena bosan akupun keluar, tapi saat bersamaan sadar atau tidak sadar aku dan Sungmin bersama – sama keluar dari kamar, kami saling menatap gugup.
“Kau mau minum.” Tawar Sungmin pelan, aku menatapnya sesaat dan mengangguk, dengan canggung aku dan Sungmin pun turun kebawah dan menuju dapur.
“Kau mau minum apa?” Tanya Sungmin membelakangiku.
“Seterah saja.” Jawabku bingung, Sungmin manggut – manggut dan menuang jus jeruk kedalam 2 gelas yang berbeda.
“Ini.” Ucap Sungmin seraya menyodorkan segelas jus jeruk.
“Hm, gomawo.” Ucapku sambil menunduk pelan dan menyeruput pelan, suasana canggung semakin mengusai sekitar kami.
“Soyu-ah, apa kau pernah menyukai seseorang?” Tanya Sungmin pelan dan membuatku tersentak kaget.
“Maksudmu?” Tanyaku bingung.
“Setelah aku pindah, apa kau pernah menyukai seseorang?” Tanya Sungmin tampak serius, aku berpikir sejenak lalu menganggukan kepalaku pelan.
“Pernah.” Pekik Sungmin kaget.
“Hmm, mollayo.” Ucapku pelan, Sungmin menundukkan kepalanya dan menerawang kedalam gelas jusnya.
“Kalau aku pernah.” Ucap Sungmin, aku menatapnya.
“Apa yeoja yang melerai perkelahianmu waktu di lapangan sekolah.” Ucapku, Sungmin mengakat kepalanya dan tersenyum ke arahku.
“Wae?” Tanyaku bingung.
“Kita sudah berteman sejak kecil, tapi aku belum perah merasakan hal ini.” Ucap Sungmin sambil menatapku aneh. “Hm, kau mengenalku lebih dari kedua orang tuaku.” Tambah Sungmin dengan tatapan yang membuatku menjadi salah tingkah, “Jika perasaan ini sejak dulu ada kemungkin aku takkan pindah dan membiarkanmu menyukai atau mempunyai perasaan sepecial ke orang lain.” Aku tertegun mendengar ucapannya itu.
“Hah, kau sedang bercanda yah sekarang.” Elakku sambil mengalihkan pandanganku ke arah lain, lalu perlahan Sungmin menaruh gelasnya di atas meja dan mendekat ke arahku.
“Soyu-ah, apa kau juga merasakan hal yang sama, dulu kita pernah berpelukkan, berpegangan tangan, bahkan tidur bersama dengan perasaan persahabatan, tapi sekarang apa kita bisa mengulangnya dengan perasaan yang lain.” Ucap Sungmin tepat di hadapanku, aku memegang erat gelas yang ada di tanganku dan menatap Sungmin.
“Maksudmu?” Tanyaku gelagapan.
“Hm.” Gumam Sungmin sambil terkekeh.
“Sudahlah, nanti lagi kita bahasnya.” Ucap Sungmin seraya pergi meninggalkanku sendiri di dapur, ku menatap Sungmin dari belakang.
“Aku juga…aku juga merasakannya.” Gumamku pelan.
KEESOKKAN HARINYA
~TAMAN BERMAIN~
“Sungmin, aku mau naik itu.” Ucapku, Sungmin menatap ke sebuah wahana taman bermain Roller Coster.
“Hmm, kau berani.” Tantang Sungmin, aku menatap Sungmin sambil berkacang pinggang “Mau taruhan.” Tantangku, Sungmin menatapku dengan tatapan misterius.
“Ok, kita taruhan.” Ucap Sungmin setuju dengan santai Sungmin berjalan ke arah barisan wahana Roller Coster, aku menyusulnya.
“Hmm, taruhannya di buat bagi yang menang yah.” Ucap Sungmin, aku bergidik merasa ada yang tak beres dengan ucapannya itu, tetapi jika aku menolak ia pasti mengagapku takut.
“Ok, siapa takut.” Ucapku semangat, Sungmin tersenyum ke arahku, aku merasa ada yang tidak beres dengan cara ia tersenyum.
“Nah, setelah ini giliran kita.” Ucap Sungmin seraya membeli 2 karcis wahana Roller Coster.
GLEK! Aku sedikit menelan ludah merasa khawatir.
“Aigoo, belum ikut kau sudah pucat seperti itu.” Goda Sungmin, membuatku gelagapan.
“Mwo, siapa yang pucat, ini karena aku terlalu putih.” Elakku, Sungmin tertawa dan saat giliran kami masuk kedalam wahana dengan cepat Sungmin duduk di bagaian yang paling depan dan menarikku duduk di sebelahnya, tak lama aku duduk alat pengamanpun di turunkan dan menahana tubuh bagian dada.
“Hah.” Hela nafasku mulai gugup, Sungmin bergumam pelan dan menggenggam pelan tanganku.
“Jangan terlalu tegang.” Ucap Sungmin, aku tersenyum ke arahnya, lalu perlahan wahana itupun mulai berjalan, membawa semua penumpang wahana itu berputar putar dan melambung tinggi.
SAAT TURUN DARI WAHANA ITU
“Akh, kelihatannya kita seri.” Ucap Sungmin saat melihat ku yang masih tampak biasa – biasa saja.
“Hehehe.” Tawaku pelan, lalu di hari itu kami bermain di setiap wahana yang menggugah andrenaline.
Tapi saat mengingat ucapan Sungmin tadi malam terkadang membuatku gugup dan canggung bersamanya “Sungmin~a jika benar, aku ingin kembali mengulang semuanya dengan perasaan dimana aku selalu bersama mu dan tetap tinggal bersamamu, dengan perasaan yang lain, dimana kita saling berpegangan tangan, dan berpelukkan.” Tapi semuanya sudah berbeda dengan umur kita yang sudah beranjak dewasa.
~TBC


One thought on “FF ~Memorise~ {Stay With U Chapter 3}

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s