FF ~Memorise~ {My First Kiss Chapter 4}


@@@THE STORY@@@
Sinar matahari yang cukup terik pada hari minggu ini membuat susana musim panas sangat terasa.
“Akh, Soyu-ah ayo berenang.” Ajak ajumma.
“Ani, aku mau duduk di sini saja.” Tolakku lembut.
“Hmm.” Gumam ajumma sedikit kecewa seraya pergi ke arah air laut.
“Akh! Sejuk sekali.” Gumam seseorang yang aku kenal.
“Tumben sekali pada musim panas ini, pantai jadi sepi seperti ini.” Ucapku seraya menebarkan pandanganku keseluruh sisi pantai.
“Nae, kau tidak mau berenang.” Ucapnya.
“Ani, hari ini terlalu panas untuk berenang.” Ucapku malas.
“Huh!.” Gumamnya lemas seraya duduk di sampingku.
Seketika suasana menjadi hening, hanya terdengar hembusan angin sepoi – sepoi di pantai.
“Lama sekali kita tidak pernah kepantai bersama seperti dulu.” Ucap Sungmin memecahkan keheningan.
“Benarkah, itu semua salahmu.” Ucapku seraya menatapnya sinis.
“Mwo, salahku.” Gumamnya bingung.
“Iya, itu salahmu seandainya kau tidak pindah kita mungkin sering sekali kepantai.” Gerutuku.
“Aigoo, padahal kau sendiri yang menyuruhku untuk mengejar impianku.” Ucapnya yang seketika membuatku bingung.
“Maksudmu, bukankah kau ingin aku mengejar impianku dan mengajakmu keliling dunia setelah aku sukses nanti.” Ucapnya sambil tersenyum simpul ke arahku.
“Kalau begitu kenapa kau kembali.” Ucapku ketus.
“Aku kembali untuk mengambil jurusan manejeman di sekolah Shinhwa dan UK di sini, padahal aku hanya ingin diam – diam untuk kembali ke sini, tapi malah aku di jodohkan langsung denganmu.” Ucap Sungmin sambil meringis dengan tatapan kecewa.
“Hmmm…, Kenapa?” Tanyaku pelan.
“Mwo!.” Pekik Sungmin bingung.
“Kenapa kau kembali?” Tanyaku sedikit mulai terisak kecil.
“Soyu-ah.” Jawab Sungmin seraya mendekat ke arahku.
“Kau tahu, aku sangat sedih saat mengetahui kalau kau pergi, pergi ketempat yang sangat jauh, terlebih lagi kau tak mengatakan apapun kepadaku sebelum kau pergi, aku benci padamu.” Ucapku sambil tertunduk sedih.
“Mian.” Ucapnya seraya merangkulku layaknya sahabat.
“Karena kau sudah membuatku menangis sekarang, pokoknya kau harus menepati janjimu, kalau kau akan mengajakku keliling dunia nanti.” Ucapku sambil menunjuk wajahnya.
“Araseo.” Ucapnya seraya memelukku, entah kenapa saat ia memelukku, rasanya hangat sekali dan nyaman sekali, terlebih lagi jantungku berdebar – debar sangat berbeda seperti biasanya, aku menjadi salah tingkah di buatnya.
“Soyu-ah, ada apa dengan jantungmu?” Tanya Sungmin yang seketika membuatku mendorong tubuhnya.
“Akh, aku mau minum.” Ucapku mencari alasan untuk pergi dari hadapannya.
“Mwo!, padahal sedang mesra – mesranya.” Gerutunya kesal, aku bergegas ke sebuah toko kecil yang berada di dekat pantai untuk membeli minuman.
“Soyu.” Panggil seseorang dari arah belakangku, aku menoleh dan aku melihat Inoue sedang berada di berdiri di belakangku.
“Ah, Inoue.” Sahutku bingung sambil menatapnya kaget.
“Kau juga sedang berliburan ke pantai yah.” Ucap Inoue seraya berdiri di sampingku dan mengambil sebotol minuman dingin dari mesin pendingin.
“Nae, kau juga, kebetulan sekali.” Ucapku seraya mengambil 6 botol minuman dingin dan bergegas untuk membayarnya di kasir bersama Inoue.
“Iya, oya aku akan mengadakan pesta malam ini bersama anak – anak dari kelas 2 lainnya, kau mau ikut.” Ajaknya sambil tersenyum manis dan kami pun bergegas pergi dari toko itu setelah membayar belanjaan kami.
“Hemmm, entahlah aku tidak terlalu suka dengan pesta.” Ucapku bimbang.
“Hm.” Gumamnya manggut – manggut, tak lama aku berbincang dengan Inoue dari kejauhan aku melihat Sungmin sedang menatapku dan inoue dengan tatapan dingin, aku tersenyum ke arahnya dan melambaikan tanganku, Sungmin hanya diam dan tersenyum simpul, saat berada di hadapannya, seketika Sungmin menatap tajam Inoue.
“Hi, Sungmin kau juga berlibur ke pantai juga.” Ucap Inoue ramah.
“Nae, aku bersama Soyu libur bersama ke sini.” Ucap Sungmin dingin.
“Oh! begitu.” Ucap Inoue sambil cengengesan dan menggeleng – geleng, aku hanya diam saat Sungmin menatapku dan Inoue bergantian.
“Ya, Sudah aku tidak mau mengganggu, aku pergi dulu bye.” Pamit Inoue seraya pergi, saat Inoue pergi, Sungmin menatapku dengan tatapan tajam.
“Jadi itu maksdumu mau minum.” Ucap Sungmin dingin.
“Kau marah lagi.” Timpalku polos.
“Sudahlah, aku mau berenang.” Ucapnya seraya pergi, tetapi aku menarik tangannya sebelum ia pergi, ia menoleh dan menatapku bingung.
“Ini minuman untukmu.” Ucapku sekenanya.
“Tidak mau.” Tolaknya.
“Hmm, ya sudah.” Ucapku seraya kembali memasukkan botol minuman ke dalam bungkusan.
“Eh, kok malah di balikin di bungkusannya.” Ucapnya bingung.
“Kaukan tidak mau.” Ucapku sekenanya sambil menatapnya bingung.
“Sini.” Pekiknya seraya mengambil botol yang tadi aku sodorkan.
“Kau ini kenapa?” Tanyaku bingung dengan sifatnya.
“Sudah jangan di bahas aku kenapa, apa kau mau berenang.” Ajaknya ketus.
“Tidak, aku ingin mencari ikan – ikan kecil saja di perkarang di dekat sana.” Ucapku seraya menunjuk ke arah salah satu karang, karena air sedang surut pada siang itu.
“Mau ku temani.” Tawarnya.
“Boleh saja.” Ucapku sambil tersenyum manis.
“Kajjah.” Ucapnya seraya menarik tanganku lembut dan kami menyelusuri pasir putih di pantai itu dan menuju ke arah karang.
“Soyu-ah, lihat ada ikan hias.” Ucap Sungmin seraya menunjukkan ikan kecil yang berwarna pelangi ke arahku.
“Wah, neomu agyeo.” Gumamku kagum.
“Kau mau memeliharanya.” Ucap Sungmin.
“Ani, akukan Cuma ingin mencari tidak untuk memeliharanya.” Ucapku seraya mengambil dan melepaskan ikan itu kembali.
“Hm.” Gumam Sungmin seraya menggut – manggut, tak lama kemudian.
“Sungmin!.” Panggil seorang yeoja dari kejauhan. Aku dan Sungmin menoleh kebelakang dan kami lihat seorang yeoja yang sangat kami kenal.
“Aish, kenapa dia ada di sini?” Gumam Sungmin sambil merenggut kesal.
“Bukankah itu Sunny.” Ucapku sambil menatap yeoja itu dengan teliti.
“Kajjah, kita pergi.” Ajak Sungmin seraya menarik tanganku untuk pergi dari tempat itu.
“Ya! Sunny tadi ingin menghampiri kita, kenapa malah pergi?” Tanyaku bingung.
“Sudahlah, kau jangan dekat – dekat dengan Sunny dia berbahaya.” Jawab Sungmin dengan tampang serius.
“Mwo, tapi dia sangat baik padamu.” Ucapku masih kebingungan.
“Iya, tapi dia tidak baik kepada orang – orang di sekitarku, aku tidak suka itu.” Jelas Sungmin seraya mempercepat langkahnya saat mendengar suara Sunny yang mengejar kami.
~MAKAN MALAM~
“Arrrggghhhh…” Geram Sungmin lemah.
“Waeyo?” Tanyaku pelan.
“Lihat saja.” Jawab Sungmin seraya menatap Sunny yang sekarang berusaha mengambil perhatian dari kedua orang tua Sungmin.
“Hahaha, dia baik sekali.” Ucapku sambil tertawa kecil.
“Mwo, baik apa kau tidak merasa sejak tadi ia mengacuhkanmu.” Bisik Sungmin saat Sunny berlalu dari hadapan kami berdua.
“Mwo, benarkah aku tidak merasakan hal itu.” Gumamku bingung.
“Sudahlah, Kau tidak kedinginan?” Tanya Sungmin melihat pakaianku.
“Ani, ini terbuat dari mantel, tenang saja.” Jawabku.
“Huh, kelihatannya appa dan ammaku tidak bercanda untuk berkemah di pantai.” Ucap Sungmin.
“Sudahlah, Sungmin terkadangkan perlu refreshing juga.” Ucapku sambil tersenyum simpul dan bergegas membantu ajumma untuk memanggang daging.
Setelah makan aku dan Sunny membantu ajumma mencuci piring di Mobil Van untuk perjalanan.
Keesokkan harinya kami kembali ke Seoul dan menghabiskan sisa libur di rumah.
“Akhirnya aku bebas.” Gumam Sungmin seraya berbaring di ranjangku.
“Mwo, ya ini tempatku.” Ucapku.
“Ya, sudah ke sini.” Ucapnya seraya menepuk – nepuk sisi ranjang untuk duduk.
“Tidak, keluar sana.” Usirku.
“Aish, jincha kau sungguh menyebalkan.” Gerutunya seraya bangkit dan pergi dari kamar.
“Dasar, mesum.” Umpatku dalam hati.
“Oya, Soyu malam ini ada pesta di sekolah kau mau ikut.” Tawar Sungmin seraya berbalik.
“Kau sendiri.” Ucapku.
“Hm, aku sich tidak tertarik tapi jika kau mau ikut, aku juga ikut.” Ucap Sungmin sambil tersenyum.
“Hmm, lebih baik kita datang saja.” Ucapku sambil membalas senyumnya.
“Ok, kalau begitu. Selamat istirahat.” Ucapnya seraya menutup pintu kamarku.
“Iya, kau juga.” Timpalku.
~MALAM HARINYA~
“Soyu!!!, ayo cepat.” Seru Sungmin terdengar frustasi menungguku.
“Araseo!.” Sahutku malas.
“Aish, ini yang ku benci kalau pergi ke pesta, pasti harus menggunakan pakaian seperti ini, kalau tidak memakai pakaian ini, pasti tak dianggap tamu lagi.” Gerutuku kesal, setelah selesai bersiap – siap aku bergegas turun ke bawah dan menemui Sungmin yang tampaknya kesal.
“Mian lama.” Ucapku seraya mengahampiri Sungmin yang sedang membelakangiku.
“Aish, kau…” Ucapnya terhenti saat ia menoleh ke arahku.
“…..” Aku terdiam saat melihat tatapan Sungmin yang sungguh aneh dari pada biasanya.
“Kenapa menatapku seperti itu?” Tanyaku bingung.
“Akh, ani Kajjah.” Jawabnya seraya menarikku keluar setelah berpamitan dengan kedua orang tuanya.
“Sungmin, kita naik motorkan.” Ucapku meyakinkan diriku, karena sekarang aku sedang menggunakan sebuah sepatu hak yang lumayan tinggi, yang tidak memungkinkanku untuk berjalan jauh.
“Tidak kita tidak naik motor ataupun berjalan, kita menggunakan ini.” Ucap Sungmin seraya menunjuk ke arah mobil mewah milik ayahnya.
“Pakek mobil.” Pekikku kaget.
“Nae, ayo cepat masuk.” Titahnya sambil tersenyum manis.
“Nae.” Aku berlari kecil ke arah pintu mobil.
“Ya!!! Ya!!! Ya, jangan lari – lari seperti itu, kau bisa merusak dandananmu.” Ucapnya mengingatkanku.
“Oh, nae.” Ucapku santai seraya masuk kedalam mobil.
Saat di dalam mobil dan perjalanan menuju ke pesta, aku dan Sungmin hanya diam saja tanpa membuat sebuah bahan pembicaraan. Tapi terkadang aku melihat Sungmin sering kali menatap ke arahku, tetapi saat ku balas tatapannya ia malas mengalihkan pandangannya ke arah lain membuatku merasa tidak nyaman di dekatnya, tak lama kemudian akhirnya kami sampai ke sekolah.
“Hmm, chakkamanyo.” Ucapnya sebelum aku melangkah keluar mobil.
“Wae?” Tanyaku pelan.
“Lepas ikat rambutmu, itu mengganggu.” Jawabnya tanpa menatapku dan keluar, aku hanya diam dan mulai membuka ikat rambutku.
“Eotteokahae?” Tanyaku saat ada di sampingnya.
“Cantik.” Ceplosnya.
“Huh.” Pekikku kaget.
“Ani, tidak apa – apa, lebih baik kita masuk.” Ucapnya bergegas masuk ke aula kelas.
“Akh, Sungmin tunggu.” Pintaku, saat di dalam pesta, aku berdecak kagum melihat keadaan aula sekolah yang sebelumnya adalah tempat yang tak menarik berubah menjadi tempat yang begitu gelamor dan mewah.
“Soyu, kau datang.” Ucap teman – temanku.
“Nae.” Ucapku pelan.
“Ehem, kau punya pasangan.” Ucap seseorang dari belakangku.
“Hah.” Gumamku pelan sambil menoleh ke belakang.
“Kaukan.” Gumamku pelan.
“Soyu, ayo kita dansa.” Ajak Sungmin menyelaku antara lelaki itu.
“Sungmin, aku tidak bisa dansa.” Bisikku pelan.
“Ikuti saja gerakanku tapi jangan injak kakiku.” Bisiknya seraya memegang tanganku, saat kami ingin mulai menari tiba – tiba musik berubah menjadi musik klasik yang romantis, yang seketika membuatku dan Sungmin kebingungan.
“Ehem.” Deham Sungmin pelan, seraya meraih tanganku pundaknya dan tangan satunya ada di dalam genggamannya.
“Hmm, maaf.” Ucap Sungmin, tiba – tiba ku rasakan tangannya merangkul pinggangku, jantungku berdebar dengan cepat, untung saja rungan aula sedikit remang – remang sehingga wajahku yang memerah seperti kepiting rebus tak tampak jelas, tak beberapa langkah, Sungmin menarik tubuhku kedalam pelukkannya.
“Tidak apa – apa.” Ucap Sungmin kalem, aku benar – benar mati kutu sekarang, jantungku berdebar dengan kencangnya, tak lama kemudian musik pun berhenti di sertai tepuk tangan dari semua murid, saat ku sadari musik sudah berakhir aku bergegas melepas pelukan Sungmin dan meminta ijin ke toilet sebentar ke Sungmin, Sungmin hanya diam dan acuh.
“Ada apa denganku ini, bukankah sejak kecil aku sering berpelukan dengannya, tapi yang tadi itu.” Gumamku sambil melihat cermin di toilet.
“Akh, memalukan.” Ucapku sambil menutup wajahku.
“Hmm, Soyu…Soyu.” Panggil Sungmin dari laur toilet, dengan salah tingkah aku keluar dari toilet.
“Sebentar lagi pesta akan selesai kau mau pulang sekarang?” Tanyanya tanpa menatapku.
“Hmm, ki…kita tunggu saja sampai selesai dulu.” Jawabku pelan sambil menunduk.
“Oh, ok.” Ucapnya seraya berjalan ke arah meja yang di penuhi makanan, entah kenapa suasana kami menjadi begitu canggung saat ini, Sungmin sama sekali tidak mau menatapku. Saat aku dan Sungmin saling berdiam diri tiba – tiba terdengar suara MC, aku dan Sungmin pun mendengarkan acara yang akan di mulai yaitu acara penentu Ratu dan Raja dansa. Saat lampu – lampu sorot mencari – cari pemenang yang mendapatkan gelar Ratu dan Raja, karena aku tidak begitu tertarik aku mencoba meminta dengan Sungmin untuk pulang saja, tapi saat aku ingin berbicara tiba – tiba lampu sorot itu terarah kepada kami berdua.
“Sungmin.” Ucapku kaget, Sungmin hanya tersedak.
“Mwo.” Pekik Sungmin tidak percaya.
“Ok, mari kita sambut Ratu dan Raja dansa kita.” Ujar MC di iringi suara tepuk tangan dari para murid lainnya.
“Ah, tidak kam…”
“Ayo, naik ke atas panggung.” Sela MC dengan semangat, Sungmin menatapku sekilas dan memberi isyarat untuk ke sana, aku menggeleng Sungmin melotot ke arahku.
“Araseo.” Gumamku, Sungmin melangkah terlebih dahulu dariku sedangkan aku mengikutinya dari belakang, dan kami berdua pun di nobatkan sebagai Ratu dan Raja dansa sebenarnya kami berdua tidak terlalu tertarik dengan semua ini tapi mau tidak mau.
“Cium…Cium…Cium.” Sorak yang lainnya saat aku dan Sungmin sudah di nobatkan.
“Mwo, aniyo.” Pekikku keras.
“….” Sungmin hanya diam dan menatap dingin ke seluruh murid – murid.
“Ayo, kita pulang.” Ajak Sungmin menerobos kerumunan yang terdiam melihat tingkah Sungmin.
DI DALAM MOBIL
“Sungmin…Sungmin.” Panggilku pelan, Sungmin masih diam. Tapi, tak lama kemudian ia menghentikan mobil di pinggir jalan.
“Ada apa?” Tanyaku bingung.
“Masalah perjodohan kita akan segera ku bereskan, kau tenang saja.” Ucapnya tanpa menatapku.
“Mwo, bukankah kau menerima perjodohan itu?” Ucapku semakin bingung.
“Lupakan saja jika kau tidak mau.” Ucapnya seraya menatapku aneh.
“Kau kenapa?” Tanyaku pelan.
“Tidak aku tidak apa – apa.” Jawabnya sendu.
“Kau mencintaiku.” Ceplosku yang seketika membuatnya salah tingkah.
“Hmm iya aku cinta, tapi untuk apa kau sendiri tidak maukan, lupakan saja.” Ucapnya sambil tertawa hambar.
“Hmm, padahal aku menyukaimu.” Ucapku santai.
“Mwo, apa yang kau katakan tadi.” Pekiknya yang seketika berubah layaknya orang pabo, aku hanya menatapnya biasa dan mengulas senyum lucu.
“Wae?” Tanyanya.
“Hahahaha, kau serius sekali, kajjahyo kita bisa kemalaman pulang.” Jawabku.
“Akh, nae…nae.” Ucapnya seraya menjalankan lagi mobilnya.
DI RUMAH
“Hyung, Noona dari mana saja kalian, ayo ke sini aku mau menunjukkan sesuatu pada kalian berdua.” Pinta Sung Jin girang.
“Mwo, ada apa?” Tanyaku pelan.
“Molla.” Jawab Sungmin sambil tersenyum tipis.
“Hmm.” Gumamku bingung, kami pun bergegas ke lantai atas dan masuk kedalam kamar Sungjin.
“Omo, Kyuhyun.” Pekik Sungmin kaget.
“Hmm, Kyuhyun.” Gumamku bingung saat melihat sosok yang sedang serius bermain PS.
“Soyu, perkenalkan ini Kyuhyun seseorang yang pernah ku ceritakan padamu.” Jelas Sungmin seraya menghampiri Kyuhyun yang sedang sibuk di dalam dunianya sendiri. Lalu tak lama kemudian dari ambang pintu tampak seorang yeoja cantik sambil berkacak pinggang.
“Kyuhyun!.” Marahnya seraya menghampiri namja yang bernama Kyuhyun, namja itu hanya diam dan terus bermain tanpa menghiraukan apa yang sedang yeoja itu katakan kepadanya.
“Itu siapa?” Tanyaku pelan kepada Sungmin.
“Itu pacarnya.” Jawab Sungmin pelan.
“Oh.” Gumamku manggut – manggut, karena putus asa dengan sifat sang namja yang bernama Kyuhyun dengan cepat sang yeoja pergi tanpa memperdulikan sang namja.
“Hmm.” Gumamku seraya mengikutinya hingga ia berada di taman belakang.
“Kau.” Ucapnya sadar akan keberadaanku.
“Na wae?” Tanyaku pelan.
“Kau tunangannya Sungminkan.” Ucapnya, yang seketika membuatku kaget.
“Ah, itu aku…sebenarnya.” Ucapku bingung.
“Kau beruntung.” Ucapnya seraya berjalan menghampiriku.
“Maksudmu?” Tanyaku.
“Kau mendapatkan seorang yang memperhatikanmu dan menyayangimu.” Ucapnya, aku hanya bisa terdiam.
“Benarkan, benarkah seperti itu.” Batinku mulai berkecamuk dengan perasaanku.
“Oya, kita berkenalan, namaku Seu Hyun(sebenarnya Soo Hyun tapi Soo Hyun nama pemain di dream High cowok lagi jdi ku ganti, untuk saengku mianhae) aku pacarnya Kyuhyun, sekaligus temannya Sungmin.” Ucapnya, aku tersenyum.
“Namaku Song Sae Yoon kau boleh memanggilku Soyu.” Ucapku, ia tersenyum.
“Kelihatannya kita bisa jadi teman baik.” Ucapnya, aku tersenyum dan mengangguk.
“Oya, aku akan bersekolah di sekolah Shinhwa, ku rasa mulai sekarang kita bakal banyak bertemu.” Ucapnya ramah.
“Nae.” Ucapku, layaknya seperti wanita – wanita yang lainnya kami mulai berbincang dengan hal – hal yang bersangkutan dengan perasaan kami.
“Jadi begitu.” Gumamku saat ia menceritakan akan hubungannya dengan namja yang bernama Kyuhyun itu.
“Terkadang aku iri dengan sifat Sungmin.” Ucapnya.
“Hmm, maksudmu?” Tanyaku bingung.
“Sungmin selalu perhatian pada seseorang yang ia sukai.” Ucapnya sambil tersenyum ke arahku, aku hanya tersenyum membalas ucapnnya itu.
“Kalian cepat sekali akrabnya.” Celetuk seseorang mengagetkan aku dan Hyun, aku dan Hyunpun menoleh kamipun melihat sosok 2 namja sedang menatap kami dengan aneh.
“Sudah selesai mainnya.” Sindir Hyun, namja yang bernama Kyuhyun itu hanya cengengesan gaje.
“Sudah – sudah kalian ini mau sampai kapan mau bertengkar seperti ini.” Lerai Sungmin seraya menepuk bahu Kyuhyun.
“Hah.” Kyuhyun hanya menghela nafas melihat sifat Hyun yang tidak peduli dengannya.
“Soyu, ayo kita masuk.” Ajak Sungmin aku menatap Kyuhyun dan hyun bergantian dan mengerti maksud Sungmin.
“Nae.” Ucapku seraya pergi bersama Sungmin meninggalkan mereka berdua.
“Hmm, mereka itu kapan akurnya sih.” Gumam Sungmin, aku tertawa pelan, Sungmin menatap ke arahku.
“Ya, apa kau sedang membicarakan tentangku tadi dengan Hyun” Tanyanya sambil mengulum senyum manis.
“Wae?, kau ingin tahu.” Ucapku membuatnya penasaran.
“Cheom.” Ucapnya.
“hahaha, ani.” Ucapku, ia memanyunkan bibirnya.
“Hehe, ya sudah aku mau istirahat dulu, annyeong jumusaeyo.” Ucapku seraya berjalan pergi dari hadapannya, ia hanya mengangguk. Lalu dengan pelan aku menuju ke kamarku yang ada di lantai 2.
“Hah, benarkah aku adalah salah satu yeoja yang beruntung.” Batinku seraya duduk di ranjang, ku tatap foto Sungmin yang ada di meja kecil di samping ranjangnya, “Dia tampan, pintar, dewasa, mandiri, dan juga manis.” Gumamku, saat memperhatikan foto Sungmin dengan menggunakan seragam sekolah sinhwa.
“Omo, apa aku menyukainya.” Gumamku tiba – tiba jantungku berdebar kencang.
“Ini seperti waktu itu, saat aku jatuh cinta pada cinta pertamaku.” Batinku seraya menekan kuat dadaku menahan debaran jantungku.
My First Love…
“Soyu.” Panggil Sungmin yang seketika membuatku terlonjak kaget dan gelagapan.
“Soyu…Soyu.” Panggil Sungmin dengan keras.
“Akh, nae.” Dengan cepat aku membuka pinta dan menatap sosok Sungmin yang sedang berkacak pinggang marah.
“Wae?” Tanyaku gugup.
“Ada yang ingin ku ambil di kamar.” Ucapnya seraya masuk, aku masih belum bisa mengontrol detak jantungku.
“Hmm, kau kenapa…kenapa wajahmu sepucat itu?” Tanyanya seraya menghampiriku dan merangkuh wajahku.
“Ani, jangan…jangan seperti ini.” Batinku berteriak histeris, tapi tubuhku rasanya kaku.
“Ya, kau sedang tidak enak badan yah.” Ucapnya seraya mendekatkan wajahnya ke arahku.
“Su…Su…Sungmin.” Gumamku, Sungmin hanya membalas dengan gumaman.
“Ya, kalian sedang apa?” Tanya Kyuhyun membuat aku dengan cepat melepas rangkuhan tangan Sungmin dan beringsut menajauh darinya.
“Hmm.” Gumam Sungmin bingung melihat tingkahku.
“Sungmin, dimana kau menyimpan memory card?” Tanya Kyuhyun tampak tidak peduli dengan apa yang terjadi.
“Oh ini baru saja aku mau mengambilnya.” Jawab Sungmin seraya mengatungkan benda yang ia ambil di kantung bajunya dan berjalan keluar bersama Kyuhyun, sekarang hanya aku sendiri di dalam kamar.
“Huh, sangat menegangkan.” Gumamku sambil menghela nafas lega, lalu akupun menutup pintu kamar dan mengganti bajuku, lalu bergegas tidur.
Ku Harap besok tak setegang ini jika bertemu dengannya.

~TBC~